Jl. Way Kanan No 52 Pahoman, Tanjung Karang, Bandar Lampung. Hp. 085368366136, 085789662237, 081808307083 (WA), 085709178188 (WA), PIN BB 2A73AEAD,, 5EC02DBE
Minggu, 24 April 2016
Sakit Kepala ???
SAKIT KEPALA ...?
BELUM TENTU KEPALA YANG SAKIT, SAKIT KEPALA ADALAH GEJALA BUKAN PENYAKIT
Sebenarnya yang sakit bukanlah kepala, tapi organ lain yang menjadi pemicunya.
Ibnu Qoyyim menyebutkan, bahwa ada kaitan antara otak dan jantung dimana jantung bersifat panas sedangkan otak bersifat dingin. Apabila jantung bekerja melebihi kapasitas normal, seperti dalam tertekan, waswas, marah maka akan terjadi panas berlebih yang akan menaikkan suhu otak yang bersifat dingin dan lembab.
Kelembaban yang terpanasi akan menguap dan menuntut volume yang lebih besar akibatnya terjadilah sakit kepala. Dalam kondisi seperti ini pelepasan panas berlebih dengan berbekam adalah upaya terbaik.
Sakit kepala seringkali tidak berdiri sendiri, tapi merupakan sebuah gejala dari perubahan kondisi tubuh yang terlalu ekstrim atau menjadi gejala dolor (nyeri) yang mengikuti pada berbagai peradangan. Pemicu kepala seringkali bukan berpangkal di kepala namun adanya kaitan erat antara syaraf suatu organ yang memiliki hubungan secara sensorik dengan syaraf yang berada di kepala. Jika seperti ini apakah layak kita terus menerus menekan rasa sakit yang sebenarnya hanya gejala dan justru malah membuat kita tidak merasa bahwa salah satu organ kita telah bermasalah menjadi lebih serius.
Mari kita perhatikan lagi secara lebih mendalam berbagai faktor yang menjadi pencetus timbulnya sakit kepala agar kita menjadi lebih bijak memilah dalam penanganan sakit kepala. Terlebih sebenarnya Islam telah mewariskan berbagai solusi jitu untuk menangani problem sakit kepala yang biasa dialami oleh masyarakat kebanyakan dan hal itu baiknya tidak kita lupakan begitu saja.
Sakit kepala yang secara medis dikenal sebagai cephalalgia atau dilafalkan cephalgia adalah suatu kondisi terdapatnya rasa sakit di dalam kepala. Sakit kepala dibedakan kepada dua tipe, yaitu sakit kepala primer dimana sakit kepala ini ditimbulkan bukan karena penyakit, tetapi karena dipicu oleh rasa khawatir/takut, sedih, waswas, marah, maka akan terjadi panas berlebih yang akan menaikkan suhu otak yang bersifat dingin dan lembab. Kelembaban yang terpanasi akan menguap dan menuntut volume yang lebih besar akibatnya terjadilah sakit kepala. Dalam kondisi seperti ini pelepasan panas berlebih dengan berbekam adalah upaya terbaik.
Kondisi sakit kepala lain adalah tipe sekunder dimana sakit kepala yang dipicu oleh faktor peradangan atau infeksi pada organ-organ tertentu. Sakit kepala tipe skunder dapat terjadi ringan atau pun berat.
Kebanyakan jenis migrain (sakit kepala sebelah) terjadi karena sakit kepala yang bersifat sekunder. Contoh mudah adalah apabila terjadi infeksi gastritis(lambung) semisal ulcus pepticum, appendiksitis (infeksi usus buntu), Alergi terhadap makanan atau minuman tertentu seperti keju, wine(khamr) maka penderita akan merasa pusing. Dalam kasus seperti ini maka cara yang terbaik adalah dengan mengobati sumber sakit yang berasal dari lambung.”Tidak ada bencana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri…”(H.R. At-Tirmidzi).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa tidak selamanya sakit kepala dikarenakan kepala yang benar-benar sakit, walaupun ada kasus-kasus tertentu seperti peradangan otak, kasus meningitis yang memang menyerang otak sehingga terjadi sakit kepala.
Namun, seringkali kita melupakan kesehatan pola hidup kita, pola makan kita, cara kita mengkonsumsi obat yang mungkin bisa menjadi penyebab terjadinya sakit kepala. Apabila jiwa kita sakit, banyak termenung, banyak bersedih dan berputus asa sehingga mengurangi waktu tidur, mengurangi porsi makan (kasus anorexia) maka, apakah pantas kita lebih menyiksa tubuh kita dengan menelan berbutir-butir obat pereda nyeri, bahkan obat hipnotik/sedative untuk menghindari rasa sakit di kepala, ataukah kita lebih dapat menjadikan sabar sebagai obat?
Wallahu ‘alam bishawwab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar